Monday, February 16, 2009

Analisis Penerapan Collision Regulation 1972 Terhadap Keselamatan Pelayaran Kapal Milik PT Serunting Sriwijaya Palembang Tahun 2007

Parlin Hobbystar H

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penerapan Collision Regulation 1972 Terhadap keselamatan pelayaran

Indonesia adalah untuk membantu dalam meningkatkan keterampilan dan

kecakapan semua perwira dan nahkoda Indonesia dalam menghindari bahaya

tubrukan di laut. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki armada ang

kutan laut antar pulau yang jumlahnya cukup besar sehingga Presiden Republik

Indonesia Mengeluarkan Keputusan No. 50 Tahun 1979 yang terdapat di

lampiran.

Convention On The International Regulations For Preventing Collisions At Sea 1972 yang secara umum disebut sebagai Collision Regulation 1972 atau disingkat dengan COLREG 1972, jika dalam bahasa Indonesia nya dikenal sebagai Peraturan Internasional Mencegah Tubrukan di Laut ( PIMTL ) tahun 1972 adalah merupakan Resolusi International Maritime Organization ( IMO ) nomer A. 464 ( XII ) tentang peraturan yang berlaku secara internasional dan harus dipatuhi serta dilaksanakan secara utuh oleh semua kapal, pemilik kapal, Nakhoda, dan awak kapal agar tidak terjadi kecelakaan dilaut. Collision Regulation 1972 ditandatangani oleh semua anggota International Maritime
Organization pada bulan Oktober 1972 di London dan Indonesia adalah

merupakan salah satu dari 47 negara yang ikut serta didalam penandatanganan

tersebut.
Collision Regulation 1972 mulai berlaku pada tanggal 15 Juli 1977 untuk menggantikan Collision Regulation 1960 yang sudah tidak sesuai lagi sehingga diperlukan adanya perubahan dan penambahan yang sesuai dengan :
1. Resolusi Intergovernmental Maritime Consultative Organization (IMCO ) A.466 ( XII ) tanggal 19 November 1981 yang berlaku mulai tanggal 19 November 1983.
2. Resolusi International Maritime Organization ( IMO) A.626 ( XV ) tanggal 19 November 1987 yang berlaku mulai tanggal 19 November 1989.
3. Amandemen tahun 1993.

Tujuan penerapan Collision Regulation 1972 yang terdiri dari 38 aturan dan 4 lampiran tersebut adalah untuk mencapai keselamatan kapal, awak kapal, penumpang, muatan serta dapat mencegah terjadi nya pencemaran laut dan hal tersebut menjadi tanggung jawab nakhoda serta awak kapalnya.
Human error merupakan salah satu faktor penyebab kecelakaan laut terbesar yang selama ini terjadi di Indonesia, dalam banyak kasus yang seharus nya bisa mencegah kecelakaan itu adalah mereka yang bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas navigasi diatas kapal - kapal yang dimaksud, oleh sebab itu didalam mengemban tugas - tugas nya seorang Nakhoda kapal hams memahami dan menerapkan Collision Regulation 1972 secara utuh, begitu juga dengan perwira jaga navigasi yang ketika melaksanakan dinas jaga laut adalah sebagai wakil dari Nakhoda dan tanggung jawab nya setiap waktu adalah melaksanakan tugas jaga nya dengan seksama serta memastikan bahwa pengawasan yang efisien selalu terpelihara untuk mencegah terjadi nya kecelakaan di laut.
Sejalan dengan perkembangan tehnologi dunia dibidang perkapalan dan pelayaran, dimana jumlah kapal - kapal niaga dari berbagai jenis dan ukuran serta kecepatan nya terns meningkat, maka faktor keselamatan pelayaran menjadi persyaratan utama didalam mengoperasikan kapal - kapal. Dalam hal ini setiap Nakhoda dan perwira jaga navigasi hams dapat mengambil langkah - langkah
yang tepat didalam mencegah terjadi nya bahaya - bahaya dilaut seperti bahaya kapal kandas, bahaya tubrukan dan sebagai nya. Berdasarkan laporan hasil penelitian oleh Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Inggris yang berjudul "Major Marine Collisions and Effects of Prevention Recommendations" tertanggal 9 September 1981 menyebutkan bahwa penyebab utama terjadinya tubrukan dilaut dari tahun 1970 hingga tahun 1979 adalah karena kesalahan manusia ( Human Error)
International Chamber of Shipping ( ICS ) dalam laporan nya nomer 15, Januari 1996 tentang `Kecelakaan Navigasi' menyimpulkan sebab - sebab kecelakaan laut, baik itu tubrukan maupun kekandasan kapal dari berbagai penyelidikan pada tingkat internasional. Ada 2 faktor penyebab utama nya yaitu :
1. Kegagalan dalam memelihara suatu tugas bernavigasi yang memadai.
2. Kelemahan dalam penampilan organisasi anjungan.

Tidak ada bukti yang menunjukkan kekurangan yang serius dari perwira jaga navigasi yang berhubungan dengan pelatihan dasar untuk keahlian bernavigasi maupun kemampuan untuk menggunakan instrumen - instrumen dan peralatan navigasi, kecelakan laut itu terjadi karena kesalahan manusia yang mana semua manusia cenderung berbuat kesalahan dalam suatu situasi dimana tidak ada
petugas navigasi yang secara terus menerus mampu mendeteksi sebelum sebuah kecelakaan terjadi, oleh sebab itulah maka penulis terdorong untuk melakukan
penelitian dan menyusun nya dalam bentuk skripsi dengan judul :

“Analisis Penerapan Collision Regulation 1972 Terhadap Keselamatan Pelayaran Kapal Milik PT Serunting Sriwijaya Palembang Tahun 2007”

B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi masalah
Banyak permasalahan yang sering dihadapi oleh perwira jaga navigasi ketika melaksanakan tugas jaga Laut, terutama yang berhubungan dengan keselamatan pelayaran, adapun identifikasi masalah nya yaitu :
a. Masalah kurang nya pemahaman tentang Collision Regulation 1972 yang terdiri dart 38 aturan dan 4 lampiran.
b. Masalah tidak diterapkannya Collision Regulation 1972 secara benar.

c. Masalah kurang nya pengetahuan tentang komputerisasi yang berkaitan dengan peralatan bantu navigasi yang saat ini serba canggih yang diatur didalam Collision Regulation 1972.
d. Masalah kurang menguasai bahasa Inggris dengan baik, mengingat bahasa Inggris adalah sebagai alat komunikasi yang bersifat intemasional dan sebagai instruksi manual di kapal.
e. Masalah keterbatasan jumlah buku navigasi yang tersedia diatas kapal
f. Masalah kurang nya fasilitas alat navigasi moderen yang ada diatas
kapal.
g. Masalah kurang profesionalisme dan kualitas sumber daya pelaut Indonesia yang sesuai dengan konvensi internasional Seafarers Training Certification and Watchkeeping ( STCW ) amandemen 1995.
h. Masalah kurang nya pengaturan efektivitas tugas jaga anjungan yang berdasarkan pada Bridge Team Management Principles.
i. Masalah kurangnya sumber daya manusia yang ada diatas kapal sehingga timbul kejenuhan, kelelahan fisik dan mental serta stres.
j. Masalah pengaruh pada stabilitas kapal yang kurang baik.
k. Masalah adanya error pada alat-alat navigasi kapal yang belum dikoreksi.
2. Batasan masalah

Karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dana, buku-buku referensi dan teori-teori yang ada, maka tidak semua masalah yang telah di identifikasi akan diteliti sehingga perlu dibatasi agar penelitian ini dapat dilakukan secara lebih mendalam, untuk itu maka penulis menetapkan batasan masalah hanya pada hubungan penerapan Collision Regulation 1972 (variabel bebas ) terhadap keselamatan pelayaran ( variabel terikat ) pada kapal — kapal milik PT. Serunting Sriwijaya Palembang .

3. Rumusan masalah

Supaya masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti perlu dirumuskan secara spesifik oleh penulis, yaitu :
a. Apakah penerapan Collision Regulation 1972 pada kapal kapal milik PT. Serunting Sriwijaya Palembang ?
b. Apakah tingkat keselamatan pelayaran pada kapal-kapal milik PT. Serunting Sriwijaya Palembang ?
c. Apakah ada hubungan antara penerapan Collision Regulation 1972 terhadap keselamatan pelayaran milik PT.Serunting Sriwijaya Palembang ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui dan menganalisis penerapan Collision Regulation 1972 oleh perwira jaga navigasi yang bertugas di kapal-kapal milik PT. Serunting Sriwijaya Palembang.
b. Untuk mengetahui dan menganalisis keselamatan pelayaran yang dilakukan PT. Serunting Sriwijaya Palembang ?
c. Untuk mengetahui hubungan penerapan Collision Regulation 1972 dengan keselamatan pelayaran.
2.Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
a. Bagi penulis, diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan nya serta mampu mempraktekkan teori-teori yang didapat selama mengikuti pendidikan.
b. Bagi perusahaan, dapat digunakan sebagai bahan masukan ( acuan ) serta sumbangan pemikiran didalam mengambil suatu keputusan perusahaan yang lebih bijaksana dimasa yang akan datang.
c. Bagi lembaga ( STMT Trisakti ) dapat digunakan sebagai informasi tambahan dan sumbangan ilmu pengetahuan sekaligus sebagai data dokumentasi perpustakaan STMT Trisakti.

D. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan sumber data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dalam bentuk angket dan data kuantitatif yang diangkakan dengan menggunakan skala pengukuran, adapun sumber data nya adalah sumber primer dan sumber sekunder dengan mengukur angket di lapangan merupakan data dokumentasi perusahaan.
2. Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perwira jaga navigasi yang bekerja di kapal-kapal milik PT. Serunting Sriwijaya Palembang dan sebagai sampel nya diambil 40 perwira jaga navigasi yang juga bertugas di kapal kapal milik PT. Serunting Sriwijaya Palembang.
3. Tehnik Pengumpulan data
Tehnik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini antara lain adalah :
a. Riset lapangan ( field research )
Untuk memperoleh data primer melalui riset lapangan, maka penulis menggunakan teknik kuesioner dengan menunjuk skala Likert yang di bagikan penulis kepada 30 responden sebagai sampel dalam penelitian ini.
b. Riset kepustakaan ( library research )
Agar skripsi ini tidak menyimpang jauh dari teori-teori yang ada dan untuk memperoleh data sekunder guna melengkapi data-data yang sudah tersedia, maka dalam riset kepustakaan ini penulis menggunakan beberapa buku, kamus dan perpustakaan.

4. Teknik analisis data

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan oleh penulis adalah rumus-rumus statistik sebagai berikut :
A. Analisis regresi linier sederhana.
Regresi linier didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu
variable independent dengan satu variable dependen.persamaan umum
regresi linier sederhana adalah:

Y = a + bX
Dimana :
sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi ( 2005: 237 )

X = Subyek dalam variabel independen ( mempunyai nilai tertentu )
Y = Subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan
a = Harga Y bila X = 0 ( Konstanta )
b = Koefisien regresi
Adapun rumus untuk mencari nilai a dan b adalah sebagai berilcut:


a = (∑Y) (∑X2)- (∑Y) (∑XY) Somber : Sugiyono, Metode Penelitian.
Administrasi ( 2005 : 238 )
∑X2- (∑X) 2

b = n ∑XY) - (∑X) (∑Y) Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi ( 2005 : 239 )
n∑X2- (∑X) 2




B.Koefisien korelasi Pearson Product Moment.

Untuk menguji hipotesis hubungan antara satu variable indevenden

Dengan satu dependen.

n ∑XY) - (∑X) (∑Y)\
√ {n∑X2- (∑X) 2} √ n∑Y2- (∑Y) 2}
Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi ( 2005 : 212 )
Dimana :
n = Jumlah responden r = Koefisien Korelasi
X = Skor pertanyaan
Y = Skor total
Kesimpulan :
1. Jika r = 0 berarti tidak ada hubungan antara X dan Y
2. Jika r = +1 atau mendekati +1 berarti ada hubungan antara X dan Y positif dan sangat kuat
3. Jika r = -1 atau mendekati -1 berarti ada hubungan antara X dan Y sangat kuat tetapi negatif
Untuk dapat memberi interpretasi terhadap kuat nya hubungan itu, maka penulis menggunakan pedoman seperti yang tertera pada tabel berikut ini :
Tabel VIII
Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 — 0,199 Sangat rendah
0,20 — 0,399 Rendah
0,40 — 0,599 Sedang
0,60 — 0,799 Kuat
0,80 — 1,000 Sangat kuat
Sumber data : Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi ( 2005: 214 )
C. Koefisien penenentu ( KP )
Setelah nilai koefisien korelasi ( r ) didapat, maka koefisien penentu nya dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
KP = r2. 100 %
Tujuan koefisien penentu untuk mencari berapa kontribusi variable X terhadap
variable Y.
Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi ( 2005 : 215 )
Dimana :
KP = Koefisien Penentu
r = Koefisien Korelasi
D. Uji hipotesis
Untuk menguji signifikasi hubungan, yaitu apakah hubungan yang ditemukan itu berlaku untuk seluruh populasi, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan rumus uji signifikasi korelasi product moment yaitu :


r . √ ( n — 2 )
√ ( 1 — r2 )

Harga t hitung tersebut selanjutnya dibandingkan dengan harga, t tabel ( lampiran 3 ), taraf kesalahan (a) 5%, uji dua fihak ('/2a) dan dk, = n - 2 Dalam penelitian ini berlaku hipotesis statistik sebagai berikut :
Ho : p = 0 ( tidak ada hubungan )

Ho : p ≠ 0 ( ada hubungan )


E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan hasil sementara suatu penelitian yang harus di uji kebenarannya, maka hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan penerapan Collision Regulation 1972 dengan keselamatan pelayaran, dengan kata lain apabila Collision Regulation 1972 diterapkan dengan baik maka tingkat keselamatan pelayaran akan semakin tinggi.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam memahami isi skripsi secara keseluruhan, maka penulis membagi skripsi ini dalam 5 bab dengan sistematika sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Menguraikan latar belakang masalah, perumusan masalah yang meliputi pembatasan-masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, metode penelitian serta sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan Teori
Menguraikan teori yang berkaitan dengan variable penelitian dan teori lain yang terkait.
Bab III Gambaran Umum PT.Serunting Sriwijaya Palembang.
Penulis akan menguraikan sejarah singkat, organisasi dan manajemen
serta kegiatan dan perkembangan PT.Serunting Sriwijaya Palembang.
Bab IV Analisis dan Pembahasan
Pada bab ini yang dibahas oleh penulis adalah masalah-masalah yang diungkapkan dalam perumusan masalah dan masalah-masalah tersebut akan dianalisis dengan teori dan alat analisis yang telah dipilih dan ditentukan oleh penulis.

Bab V Penutup

Pada bab terakhir ini berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan diambil dari Bab IV yaitu analisis dan pembahasan,dan saran – saran yang mungkin bermanfaat.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Collision Regulation 1972
The International Regulations for Preventing Collisions at Sea 1972 atau yang biasa disingkat dengan Collision Regulations ( COLREG ) 1972 adalah suatu internasional untuk mencegah terjadi nya tubrukan dilaut.
Mengenai hal tersebut Soerjono HS ( 1998 : 1 ) menjelaskan : Collision Regulation 1972 merupakan Suatu peraturan internasional yang berlaku di laut bebas ( lepas atau internasional ) ; di perairan yang ada hubungannya dengan laut bebas ; di perairan yang dapat dilayari oleh kapal-kapal laut dan di perairan dimana negara yang memiliki wilayah tersebut tidak mengatur lain.
"Laut Bebas adalah semua bagian dari laut yang tidak termasuk dalam zona ekonomi eksklusif dalam laut teritorial atau perairan pedalaman suatu negara atau dalam perairan kepulauan suatu negara kepulauan" ( Mochtar Kusuma Atmaja. 1998: 17 ).
Didalam aturan 2 Collision Regulation 1972 dinyatakan bahwa Collision Regulation 1972 ini hams dilaksanakan dan ditaati secara utuh oleh kapal atau pemilik kapal, Nakhoda atau awak kapal untuk mencegah terjadinya resiko kecelakaan dilaut.
Mengenai hal tersebut Hadi Utomo ( 2000 : 3 ) menjelaskan bahwa Perusahaan adalah Pemilik kapal atau organisasi lain atau seorang manajer atau pencarter yang menerima tanggung jawab pengoperasian kapal dan telah menyetujui untuk mengambil alih semua tugas — tugas serta tanggung jawab sesuai dengan peraturan yang berlaku.
"Pemilik kapal ( Pengusaha Kapal ) ialah seseorang atau Badan Hukum yang memiliki kapal untuk pelayaran dilaut dengan membawa sendiri atau menyuruh nakhoda" ( Soerjono HS. 1998 : 3 ).
"Pemilik Kapal ( Pengusaha Kapal ) adalah Seseorang atau badan hukum, yang mengusahakan kapal untuk pelayanan di Taut, dengan melakukan sendiri atau menyuruh lorang lain melakukan pelayaran itu sebagai Nakhoda" ( Hadi Utomo. 2000: 2 ).
Sebuah perusahaan pelayaran pada umumnya melakukan pelayaran untuk mencari keuntungan di Taut dari pelayanan kapal-kapal nya, perusahaan pelayaran dikelola oleh seorang atau beberapa usahawan, dimana usahawan inilah yang merupakan pengusaha kapal atau mungkin sekaligus sebagai pemilik kapal, tetapi hal ini tidaklah mutlak sebab kadang kala pemilik kapal itu bukannya seorang pengusaha kapal.
Para Nakhoda dan anggota awak kapal dari perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa kewajiban yang diberikan adalah untuk keselamatan pengoperasian kapal.
"Nakhoda adalah pemimpin tertinggi dan pemegang kewibawaan umum diatas kapal" ( Hadi Utomo 2000 : 2 ).
"Nakhoda adalah salah seorang dari awak kapal yang menjadi pimpinan umum diatas kapal yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku"
( Soerjono Hs. 1998 : 4 ).
Kinerja seorang pemimpin ( leader ) adalah mempunyai kemampuan untuk menciptakan visi yang mengandung kewajiban untuk mewujudkannya dengan membawa orang lain ketempat yang bare yang mempunyai kemampuan untuk mewujudkan visinya kedalam kenyataan, apa yang dilakukan pemimpin adalah menginspirasikan dan memberdayakan orang lain untuk mewujudkan visinya, menarik orang lain bukan berarti mendorong orang lain.

Pemimpin juga harus membuat tujuan perusahaan dengan menciptakan dan memeliharr lingkungan internal kapal yang membuat semua personel terlibat dalam pencapaian sasaran perusahaan.
"Pemimpin adalah seseorang yang dapat membakar semangat anak buahnya dan memimpin mereka untuk dapat melalui rintangan - rintangan dalam mencapai tujuan mereka" ( Sri Budi Cantika Yuli. 2005: 166 ).
Saat ini semakin disadari bahwa asset yang termahal dan terpenting perusahaan adalah manusia, yaitu karyawan ( awak kapal ) nya, maka wajarlah apabila perencanaan dan pembinaan tenaga kerja perusahaan mendapatkan pemikiran dan penanganan yang sungguh - sungguh sebab jika tidak, maka masa depan perusahaan bisa jadi tidak menentu.
Hal ini lebih beralasan lagi mengingat pesatnya kemajuan tehnologi dan sulitnya mencari tenaga-tenaga terampil dan berdedikasi.
"Awak Kapal adalah semua orang yang melakukan dinar diatas kapal dan disijilkan dalam buku sijil termasuk nakhoda" ( Hadi Utomo. 2000: 6 ).
"Awak Kapal adalah orang-orang yang bekerja atau dipekerjakan diatas kapal oleh pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas diatas kapal sesuai dengan jabatan nya yang tercantum didalam buku sijil " (Soerjono HS. 1998 : 4 ).
Graham Danton ( 2002: 303 ) menjelaskan : This rule is extremely important, `Due regard to all dangers of navigation and collision' refers among other things to cases where vessels are unable to take their stipulated avoiding action due to the proximity of other vessels or the coast, reefs, etc. In such cases the priv to cases where vessels are unable to take their stipulated avoiding action due to the proximity of other vessels or the coast, reefs, etc. In such cases the privileged vessel should assist matters by taking ( and indicating) early and substantial action to avoid collision. The rule says a departure may be necessary and thus the privileged vessel should assess wheather or not there is an onus updk her to keep clear. 'Limitations of the craft' must surely draw attention to the vessels mentioned in rules 24, 26 and 27. The inference in rule 2 is, in my opinion, that literal qbiervance of the rules is certainly not intended when vessels are encountered which are hampered, disabled or encumbered in any way whatsoever ".Maksudnya adalah Collision Regulation 1972 dinilai sangat ekstrim serta penting, didalam Collisio Regulation 1972 pada aturan 2 menyebutkan bahwa semua aturan-aturan yang ada didalamnya harus dilaksanakan sepenuhnya oleh kapal atau pemilik kapal, Nakhoda atau awak kapal namun tetap dapat menyimpang dari aturan-aturan yang ada didalam Collision Regulation 1972 dalam hal menghindar dari bahaya yang sifatnya mendadak, seperti bahaya navigasi, bahaya tubrukan dan setiap keadaan khusus termasuk keterbatasan kapal yang bersangkutan, misalnya didalam aturan 24 adalah tentang kapal tunda, dorong dan gandeng yang sedang menunda, mendorong dan menggandeng ; aturan 26 adalah tentang kapal ikan yang sedang menangkap ikan dengan alat¬alat penangkap ikan yang dapat membatasi kemampuan olah gerak kapal ikan yang bersangkutan ; aturan 27 adalah tentang kapal yang terbatas kemampuan olah gerak nya seperti kapal navigasi yang sedang memasang, merawat atau mengangkat rambu navigasi, kabel laut ( pipa laut ) ; kapal keruk yang sedang mengeruk atau melakukan kegiatan didalam air ; kapal induk yang sedang meluncurkan ( melandaskan ) pesawat terbang ; kapal penyapu ranjau yang sedang melakukan tugas pembersihan ranjau dan sebagainya.Adapun maksud dari contoh diatas adalah misalnya kapal kita sebagai previledge vessel ( kapal yang seharusnya mempertahankan laju dan haluan ) lalu bertemu dengan suatu skuadron kapal perang dalam keadaan haluan berpotongan, maka dalam hal ini kapal kita boleh menyimpang dari aturan 15 yaitu : bilamana dua buah kapal tenaga dalam situasi bersilangan sehingga mengakibatkan bahaya tubrukan, maka kapal yang melihat lambung kiri kapal lain harus menyimpang dan jika keadaannya mengijinkan, maka tidak boleh memotong didepan kapal lain itu demi keselamatan pelayaran atau jika kapal kita dalam situasi saling berhadap hadapan dengan kapal lain tetapi disebelah kanan kapal kita terdapat bahaya-bahaya navigasi atau kapal lain, maka dalam hal ini kapal kita boleh menyimpang dari aturan 14 yaitu : bilamana dua buah kapal tenaga bertemu dengan haluan saling berhadapan sehingga menyebabkan bahaya tubrukan, maka masing - masing kapal harus merubah haluannya kekanan sehingga sating berpapasan pada lambung kirinya demi keselamatan pelayaran .Untuk lebih memperjelas uraian diatas, maka penulis akan menjabarkan istilah- istilah yang terdapat didalam uraian tersebut sesuai dengan teori-teori yang ada agar lebih mudah untuk dimengerti dan dipahami : "Kapal adalah meliputi semua jenis pesawat air termasuk pesawat yang tidak memindahkan air dan pesawat - pesawat terbang taut yang dipakai atau dapat dipakai sebagai alat pengangkutan diatas air"( Tim BPLP Semarang. 1999 : 3 ). "Kapal adalah mencakup setiap jenis kendaraan air termasuk kapal tanpa benaman ( displacement) dan pesawat terbang taut, yang digunakan ( dapat digunakan ) sebagai sarana angkutan di air" ( EW. Manikome. SP.1. 2004 : 65 )"Pesawat Terbang Laut berarti setiap pesawat terbang yang dirancang untuk dapat mengolah gerak diatas air" ( Tim BPLP Semarang. 1999: 3 )."Kapal adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut, sungai dan sebagainya" ( RP. Suyono. 2005: 115 ).Istilah kapal yang tidak dapat dikendalikan (dikemudikan) berarti kapal yang oleh sesuatu keadaan tertentu tidak mampu mengolah gerak seperti yang disyaratkan oleh Collision Regulation 1972 sehingga tidak mampu menyimpangi jalan nya kapal lain. Mengenai hal ini Graham Danton ( 2002 : 303 ) menjelaskan : The term vessel not under command means a vessel which through some exeptional circumstance is unable to manoeuvre as required by these rules and is therefore unable to keep out of the way of another vessel.Istilah kapal yang terbatas kemampuan olah gerak nya berarti sebuah kapal yang disebabkan karena sifat pekerjaan nya sehingga tidak mampu mengolah gerak sesuai dengan yang syaratkan Collision Regulation 1972 sehingga tidak mampu untuk menyimpangi kapal lain nya. Mengenai hal ini Graham Danton (2002 : 304 ) menjelaskan : The term vessel restricted in her ability to manoeuvre means a vessel which from the nature of her work is restricted i her ability to manoeuvre as required by these rules and is therefore unable to keep out of the way of another vessel.Istilah kapal yang terkekang oleh sarat nya berarti kapal tenaga yang karena sarat nya sehubungan dengan kedalaman air yang ada sehingga menyebabkan kemampuan nya sangat terbatas untuk menyimpang dari haluan yang diikuti nya. Mengenai hal ini Graham Danton ( 2002 : 304) menjelaskan : The term vessel constrained by her draught means a power driven vessel which because of her draught in relation to the available depth of water is saverely restricted in her ability to deviate from the course she is following."The word underway means that a vessel is not at anchor, or made fast to the shore or aground' ( A.N. Cockcroft & J.N.F. Lameijer. 1999 : 2 ).Yang artinya adalah kata berlayar berarti bahwa kapal tidak berlabuh jangkar, tidak diikat pada daratan dan tidak kandas.Istilah kapal yang berlaju dapat pula diartikan sebagai kapal yang sudah mempunyai laju atau kecepatan sehingga kapal yang melaju ini dapat dikategorikan sebagai kapal yang terapung-apung atau tidak terikat, tidakberlabuh dan tidak kandas.Bagi kapal-kapal yang menggunakan jangkar nya untuk memutar kapal ; mengarea jangkar dan rantai nya untuk menahan haluan atau kapal berlabuh tetapi jangkar nya menggaruk ( terseret ), maka hal tersebut tidak termasuk dalam kategori kapal yang berlabuh jangkar tetapi dianggap berlayar.
Kapal yang sedang berlabuh jangkar adalah kapal yang jangkarnya makan terhadap dasar laut.
"Vessels shall be deemed to be in sight of one another only when one can be observed visually from the other " ( A.N. Cockcroft & J.N.F. Lameijer. 1999 : 3 ).
Yang artinya kapal - kapal harus dianggap saling melihat satu sama lainnya hanya bilamana yang satu dapat dilihat oleh yang lain secara visual.
Adapun yang dimaksud dengan istilah secara visual artinya adalah secara nyata, jadi tidak diketahui ( dideteksi ) dari radar.
"The term restricted visibility means any condition in which visibility is restricted by fog mist, falling snow, heavy rain storms, sand storms or any other similar causes" ( A.N. Cockcroft & Lameijer. 1999 : 2 ).
Yang artinya istilah tampak terbatas adalah setiap kondisi dimana penglihatan dibatasi oleh kabut, halimun, turunnya salju, hujan badai lebat, badai pasir atau sebab-sebab lain yang serupa.
Jadi yang dimaksud dengan tampak terbatas disini bukan berarti tampak terbatas karena muatan sehingga mengganggu penglihatan.
"Istilah kecepatan aman ( menggantikan istilah kecepatan sedang ) adalah suatu
kecepatan yang digunakan untuk menghalangi penggunaan kecepatan
tinggi dalam keadaan yang sesuai" ( Soerjono HS. 1998: 7 ).
Kata `aman` disini dimaksudkan dalam pemikiran yang relatif dimana setiap kapal, diharpkan akan melaju dengan sebuah kecepatan yang cukup sehingga dapat dianggap aman dalam keadaan khusus.
Istilah sedang menangkap ikan berarti flap kapal yang sedang menangkap ikan dengan jaring, dogol atau alat penangkap ikan lain nya yang membatasi kemampuan olah gerak nya tetapi tidak termasuk sebuah kapal yang menangkap ikan dengan pancing atau alat penangkap ikan yang lain yang tidak membatasi kemampuan olah gerak nya. Mengenai hal ini Captain Raymond F. Farwell ( 2001: 5 ) menjelaskan : The term vessel engaged in fishing means any vessel fishing with nets, lines, trawls or other fishing apparatus which restrict manoeuvrability, but does not include a vessel fishing with trolling lines or other fishing apparatus which do not restrict manoeuvrability.
"The term power — driven vessel means any vessel propelled by machinery" (Raymond F. Farwell. 2001 : 5 ).
Yang artinya : Istilah kapal tenaga adalah setiap kapal yang digerakkan dengan tenaga mesin.
Setiap kapal Taut harus dilengkapi dengan lampu - lampu penerangan navigasi. Mengenai hal ini Soerjono HS ( 1998 : 17 ) menjabarkan secara terperinei tentang jenis - jenis penerangan navigasi dengan penjelasan sebagai berikut : Tenerangan tiang' berarti sebuah penerangan putih yang ditempatkan pada bidang Tunas linggi dan memperlihatkan cahaya yang tidak terputus meliputi busur cakrawala 225° dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya lurus kemuka sampai 22%* dibelakang arah melintang pada setiap nisi . `Penerangan lambung' berarti sebuah penerangan hijau di lambung kanan dan sebuah penerangan merah di lambung kiri, masing - masing memperlihatkan cahaya yang tidak terputus meliputi busur cakrawala 112W dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya dari lurus ke muka sampai 22W dibelakang arah melintang pada masing - masing sisi .
Tenerangan buritan' berarti sebuah penerangan putih yang ditempatkan sedapat mungkin yang dapat dilaksanakan di buritan memperlihatkan cahaya yang tidak terputus meliputi busur cakrawala 135° dan dipasang sedemikian rupa sehingga memperlihatkan cahaya 67W dari lurus kebelakang pada setiap sisi .Tenerangan tunda' berarti sebuah penerangan kuning yang mempunyai ciri- ciri yang sama dengan penerangan buritan .
Penerangan keliling berarti sebuah penerangan yang memperlihatkan cahaya tidak terputus meliputi busur cakrawala 360° .
`Penerangan cerlang' berarti sebuah penerangan yang berkedip dengan selang beraturan pada frekwensi 120 kedipan atau lebih setiap menit.
Setiap kapal harus dilengkapi dengan alat - alat isyarat bunyi. Mengenai hal ini Soerjono Hs ( 1998: 20 ) menjelaskan sebagai berikut :
Istilah 'gag' berarti setiap alat isyarat yang dapat menghasilkan tiupan-tiupan yang diatur dan memenuhi perincian perincian dalam aturan tambahan didalam Collision Regulation 1972.
Istilah `tiup pendek' berarti tiupan yang lamanya kurang lebih satu detik. Istilah `tiupan panjane berarti tiupan yang lamanya 4 sampai 6 detik.
"Alur pelayaran sempit adalah suatu slur pelayaran yang mempunyai lebar tidak lebih dari 125 meter" ( Soerjono HS. 1998 : 24 ).
Setiap tata lalu lintas laut yang disyahkan dan disetujui oleh International Maritime Organization ( IMO ) akan disiarkan melalui Notice To Marine ( NTM), terwujud nya aturan 10 tentang bagan pemisah lalu lintas adalah merupakan realisasi dari kejadian - kejadian tubrukan yang hebat di Selat Dover tahun 1961 dimana aturan sebelum nya tidak ada.
Mengenai aturan 10 tersebut Soerjono HS ( 1998 : 25 ) menjelaskan :Bagan pemisah tata lalu lintas laut adalah sebuah bagan ( skema ) yang memisahkan lalu lintas laut yang berlayar dengan arah yang berlawanan atau hampir berlawanan dengan memasuki sebuah garis atau daerah pemisah, jalur - jalur lalu lintas atau dengan cara lain.
Sepanjang keadaan mengijinkan, sebuah kapal harus menghindari untuk memotong jalur lalu lintas tersebut karena dapat mengganggu pola anus lalu lintas dan memperbesar resiko pelanggaran.
Jalur lalu lintas merupakan suatu daerah dengan batas - batas yang jelas dimana ditetapkannya lalu lintas searah.Kebanyakan bagan pemisah tata lalu lintas laut
telah digunakan daerah - daerah pemisah diantara jalur - jalur untuk memisahkan lalu lintas yang menuju searah dan yang berlawanan.
Adapun yang dimaksud dengan daerah atau garis pemisah adalah sebuah daerah atau sebuah garis yang memisahkan lalu lintas yang menuju kesebuah arah dengir lalu lintas yang menuju kearah lain .
Sebuah daerah pemisah dapat dipakai diantara jalur lalu lintas dan sebuah daerah dekat pantai, daerah - daerah ini hanya boleh dipakai dan digunakan oleh kapal - kapal yang memotong daerah yang termasuk dalam bagan pemisah tata lalu lintas seperti : kapal penangkap ikan dan kapal - kapal yang dalam keadaan darurat untuk menghindari bahaya yang mendadak.
Kebanyakan di bagan - bagan pemisah lalu lintas ditetapkan daerah - daerah lalu lintas dekat pantai dengan maksud agar supaya kapal - kapal pantai terpisah dari lalu lintas langsung pada jalur - jalur lalu lintas yang berdekatan, daerah - daerah demikian mungkin agak sempit dan dapat menjadi daerah yang berbahaya jika digunakan secara luas dan berlayar dengan arah yang berlawanan.
Sedangkan yang dimaksud dengan daerah lalu lintas dekat pantai adalah sebuah daerah yang ditunjuk antara batas bagan pemisah tata lalu lintas laut sebelah darat dengan pantai yang berdekatan, yang dimaksud untuk digunakan bagi lalu lintas menyusuri pantai .
Menurut isi dan aturan 10, sebuah kapal yang menggunakan bagan pemisah adalah kapal yang berlayar didalam batas — batas luar dari bagan dap tidak memotong atau melakukan penangkapan ikan didalam sebuah daerah pemisah, sedangkan bagi sebuah kapal yang menggunakan daerah lalu lintas dekat pantai dianggap tidak mengikuti bagan pemisah lalu lintas

Readmore »»

PENGARUH KINERJA OPERASIONAL PT.SCHLUMBERGER TERHADAP KINERJA SEISMIC SURVEY KAPAL MV.GECO EMERALD DI JAKARTA TAHUN 2007

JHANNER SILALAHI
NIM : 244 308 021

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi ini,perkembangan dunia perminyakan semakin bertumbuh dan berkembeng seiring dengan sumber cadangan minyak dunia semakin menurun dan juga produksi minyak pada sumur sumur yang ada semakin kurang produktif lagi.Untuk itu sebagian Negara – Negara berkembang di asia seperti Indonesia,Malaysia,Thailand,serta Vietnam yang sedang melakukan explorasi perminyakan secara besar besaran baik didarat maupun di laut lepas pantai.explorasi perminyakan merupakan salah satu industri terbaik saat ini dimana memiliki pangsa pasar yang besar serta banyak dibutuhkan sector industri dan juga otomotif.untuk schlumberger sebagai perusahaan oil field services yang melayani seismis survey terbesar didunia untuk menemukan lokasi minyak di permukaan tanah.
Seismis survey merupakan titik awal untuk menemukan posisi kandungan kandungan minyak dibawah permukaan tanah,baik dengan survey 1D,2D,maupun 3D,dan 4D.yang nanatinya akan diproses selanjutnyauntuk mendapatkan lokasi minyak.faktor-faktor yang menjadi penunjang keberhasilan dan hasil survey yang baik adalah dengan memilki peralatan seismis yagn lengkap modern serta teknologi canggih.
Untuk survey dilaut lepas pantai diperlukan moda transportasi laut yaitu kapal laut yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yagn digunakan dalam survey tersebut.untuk mendukung kinerja dari survey ini diperlukan menejemen operational yang handal serta strategi – strategi yang handal untuk mengatur semua operational kapal dalam mengerjakan kontrak kerja sebagai research vessel dengan para pelanggan agar kenerja kapal maksimal dalam kegiatanaya.
Beberapa masalah yang dapat timbul dalam mengoperasionalkan kapal kapal seismis merupakan tantangan dari pada pihak managemen operational sebagai penggerak dan perencana untuk menunjang system pengoperasian kapal dalam kaitannya dalam usaha unutk memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Dimana managemen operasional yang baik akan memberi peran serta kepada perusahaan dalam meningkatkan kinerja kapal serta memberikan reputasi yang baik pula bagi dunia seismis research.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis terttarik untuk mengkaji lebih dalam dan mengemukakan dalam bentuk sebuah skripsi dengan judul : “PENGARUH MANAJEMEN OPERASIONAL PT.SCHLUMBERGER TERHADAP KINERJA SEISMIS SURVEY KAPAL MV.GECO EMERALD DI JAKARTA TAHUN 2007”.

B. Perumusan masalah.

1. Identitas Masalah
Berdasarkan judul diatas maka masalah masalah yang mungkin terjadi dapat disusun identifaikasi masalah sebagai berikut :
a. Hambatan – hambatan yang dihsdspi bsik fsktor internsl msuoun
eksternal dalam kegiatan seismis survey kapal Mv.Geco Emerald.
b. Kordinasi dengan pihak pihak terkait yang kurang maksimal dan
terealisasi dalam pelaksanaan seismis survey.
c. Jumlah dan kondisi alat alat survey yang kurang dipelihara.
d. Menjalankan procedure procedure yang belum optimal.
e. Peranaan manajemen operasional yang belum maksimal dalam
menunjang kegiatan seismis survey.
2. Pembatasan Masalah.
Untuk mencegah penilitian ini menjadi terlalu meluas, maka dalam penilitian ini penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya pada pengaruh manajemen operasional PT.Schlumberger terhadap kinerja Mv.Geco Emerald tahun 2007.
3. Pokok Masalah
a. Bagaimana pelaksanaan manajemen operasional PT.Schlumberger tahun 2007
b. Bagaimana kinerja seismis survey MV.Geco Emerald tahun 2007.
c. Bagaimana pengaruh Manajemen Operasional PT.Schlumberger terhadap
kinerja seismis survey MV.Geco Emerald tahun 2007.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan penelitian
Adapun tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan
informasi guna :
a. Untuk mengetahui pelaksanaan Menajemen Operasional
PT.Schlumberger tahun 2007.
b. Untuk mengetahui kinerja seismis survey MV.Geco Emerald tahun 2007.
c. Untuk mengetahui pengaruh Manajemen Operasional
PT.Schlumberger terhadap kinerja Seismis Survey MV.Geco Emerald
tahun 2007.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi penulis.
Untuk memperdalam dan memperluas wawasan tentang konsep-konsep
aplikasi pengaruh Manajemen Operasional perusahaan.
b. Bagi Perusahaan
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan atau input
bagi perusahaan.sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun
rencana pengembangan dan perbaikan perusahaan untuk masa yang akan dating.
c. Bagi Lembaga STMT Trisakti dan masyarakat.
Untuk melengkapi dan memperkaya kepustakaan di STMT Trisakti dan
sebagai tambahan masukan bagi para teman teman di STMT Trisakti.
Bagi investor dan masyarakat dapat melihat perkembangan perusahaa terutama didalam pelayanan sebagai salah satu perusahaan OIL FIELD SERVICE terbesar didunia serta sebagai masukan bagi para pembaca dan peneliti lainnya.
D. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Sumber Data.
Jenis penelitian yang digunakan penulis dalam menyusun skripsi ini adalah penelitian Kualitatif yang dibobotkan menjadi data Kualitatif yang berlandaskan pada studi literature serta dokumen dokumen perusaan yang menunjang penelitian.adapun sumber data adalah sebagai berikut :
a. Data primer.
Untuk memperkuat analisa,penulis melakuka wawancara serta angket kepada responden dari sejumlah karyawan yang terkait dalam perusahan dibidang operasional.
b. Data sekunder.
Diperaoleh dengan melakukan penganalisaan dan mempelajai buku buku literature dan website yang berhubungan dengan masalah ini.

2. Populasi dan Sample
a. Populasi dan Sample
1) Populasi
Yang dimaksud dengan populasi adalah jumlah keseluruhan objek yang diteliti. Pada skripsi ini penulis akan mengambil populasi karyawan PT. Sclumberger khususnya bagian operasional perusahaan dalam Manajemen Operasional pada tahun 2007.
2) Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang betul-betul representative untuk diteliti sehingga kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi dengan jumlah responden kurang lebih 30 orang pada tahun 2007
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam metode pengumpulan data untuk menyusun skripsi ini saya sebagai penulis menggunakan metode-metode sebagai berikut:
a. Penelitian Lapangan (Field Research)
1. Observasi : Disini penulis langsung terjun lapangan untuk melakukan pengamatan dan melihat-kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan sehari-hari di PT. Schlumberger dibagian operasional.
2. Inrerview : Disini penulis melakukan wawancara dengan kepala bagian operasional dan karyawan bagian operasional untuk memperoleh berbagai keterangan mengenai kegiatan pelaksanaan.
b. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Yaitu dengan penelitian dengan cara pengumpulan data yang mendukung untuk penelitian ini, diambil dari buku-buku referensi ilmiah atau literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.
4. Teknik Analisa Data
Pengolahan data dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan proporsional antara variabel X (manajemen operasional) dengan variabel Y (kinerja kapal).
Rumus yang digunakan menurut Anton Dajan (1986:367) adalah sebagai berikut:
Y = a + bX
Dimana:
Y = Variabel dependen, dalam hal ini adalah kinerja kapal
X = Variabel Independent, dalam hal ini adalah Manajemen Operasional
a = Konstanta
b = koefesien regresi
n = Jumlah sampel observasi
Untuk mendapatkan nilai a dan b digunakan rumus-rumus:


b. Analisis Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi merupakan alat untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variabel X dan Y. Adapun nilai koefisien korelasi (r) dapat dicari dengan rumus Anto Dajan (1986:376) sebagai berikut:

Dimana:
n = Jumlah sampel
X = Variabel dependen (Manajemen Operasional)
Y= Variabel independent (Kinerja kapal)
Dari hasil perhitungan koefisien korelasi yang dimaksud maka:
1. jika r = 0 atau mendekati 0 berarti hubungan antara variabel X dan Y sangat lemah atau tidak ada hubungan sama sekali.
2. jika r = +1 atau mendekati +1 berarti hubungan antara variabel X dan Y sangat kuat dan positif.
3. jika r = -1 atau mendekati -1 berarti hubungan antara variabel X dan Y sangat kuat namun negative.

Tabel 1
Pedoman untuk memberikan interpretasi
koefisien korelasi
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00-0,199 Sangat rendah
0,20-0,399 Rendah
0,40-0,599 Sedang
0,60-0,799 Kuat
0,80-1,000 Sangat Kuat
Sumber : Sugiono (2003 :214)
c. Analisis Koefisien Penentu (Kp)
Analisis ini digunakan untuk mengukur besarnya konstribusi
variabel X terhadap naik turunnya variabel Y dalam persen (%) dengan
rumus (J. Supranto 1988:250) adalah sebagai berikut:
Kp = r2 X 100%
d. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan nilai
t-hitung dengan t-tabel, melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1) Hipotesis awal
(a) Ho : ρ = 0 berarti pengaruh variabel X terhadap variabel Y sangat lemah atau tidak ada pengaruh sama sekali.
(b) Ha : ρ > 0 berarti pengaruh variabel X terhadap variabel Y sangat kuat dan positif.
2) Untuk menghitung nilai t-hitung menurut Anton Dajan (1986:376) digunakan rumus sebagai berikut:

Dimana : r = koefisien korelasi
n = jumlah sample
3) Untuk mendapatkan nilai t-tabel digunakan table distribusi t pada (α = 0,050;df = n-2).
4) Membandingkan nilai t-tabel dengan t-hitung
(a) jika t-hitung < t-tabel maka Ho diterima dan Ha ditolak
artinya hipotesis atau dugaan sementara tidak terbukti
(b) Jika t-hitung > t-tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima,
artinya hipotesis atau dugaan sementara terbukti benar.
E. HIPOTESIS
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan hipotesis diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara Manajemen Operasional PT. Schlumberger terdapat kinerja seismic survey kapal MV. GECO Emerald tahun 2007.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Untuk memudahkan pembaca memahami isi skripsi ini maka sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi 5 bab, masing-masing sebagai berikut:


BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memberikan penjelasan tentang latar belakang mengapa penulis tertarik untuk mengambil judul skripsi, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitia, hipotesis penelitian, dalam bab ini juga diuraikan mengenai metode penelitian dan sistematika penulisan skripsi.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini memuat pengertian tentang teori yang berkaitan dengan judul secara deduktif dari teori yang berlingkup luas hingga ke teori yang akan digunakan untuk menganalisis permasalahan. Judul Skripsi ini menggambarkan variabel penelitian yang memiliki teori, sehingga memudahkan untuk menganalisis. Setiap bentuk rujukan, terutama kitipan-kutipan akan disebutkan sumbernya.
BAB III OBJEK PENELITIAN
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP








BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Manajemen dan Manajemen Operasional
Pengertian manajemen menurut Husaini Usman(2006:214) adalah:
“Manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengendalian yang dilakukan untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya”.

Penertian Manajemen menurut Manulang (1996:14) adalah:
“Manajemen adalah kumpulan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya memanage atau mengelola sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan”

Pengertian Manajemen menurut James A. F Stoner (1993:120) adalah:
“Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan semua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya”.

Pengertian Manajemen Operasional menurut Richard L. Draft (2006:216) adalah:
“Manajemen Operasioanal adalah bidang manajemen yang mengkhususkan pada produksi barang dan jasa, serta menggunakan alat-alat dan teknik-teknik khusus untuk memecahkan masalah-masalah produksi”.

Pengertian Manajemen Operasioanal menurut Drs. Pangestu Subagyo (2000;2) adalah:
“ Manajemen Operasional adalah penerapan ilmu manajemen untuk mengatur kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakukan secara efisien”.

Pengertian Manajemen Operasional menurut T. Tani Handoko (1997:8) adalah:
“Manajemen Operasional adalah pelaksanaan kegiatan-kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan, perancangan, pembaharuan, pengoperasian, dan pengawasan system-sistem produksi”.

Dari defenisi diatas terlihat bahwa stoner telah menggunakan kata”proses”bukan “seni. Mengartikan manajemen sebagai “seni” mengandung arti bahwa hal ini adalah kemampuan atau ketrampilan pribadi. Sedangkan suatu “proses” adalah cara sistematis untuk melakukan pekerjaan. Manajemen didefenisikan sebagai proses karena semua manajer tanpa harus memperhatikan kecakapan atau keterampilan khusus, harus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang saling berkaitan dalam pencapaian tujuan yang diinginkan.
Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa pada dasarnya manajemen merupakan kerjasama dengan orang-orang untuk menentukan, dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning) pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengawasan (controlling).
Manajemen operasional merupakan kegiatan operasional PT. Schlumberger, dimana dalam hal ini kesiapan dan penunjang sarana dan prasarana dari perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kinerja seismic survey.
Sampai sekarang belum ada satu teori manajemen dapat diterapkan pada semua situasi. Seorang manajer akan menjumpai banyak pandangan tentang manajemen. Setiap pandangan mungkin berguna untuk berbagai masalah yang berbeda-beda.
1. Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi manajer
menjadi tiga golongan yang berbeda :
a.Manajer lini pertama
Tingkat paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi
tenaga operasional disebut manajemen lini (garis) pertama.
b.Manajer menengah
Manajer menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya dan kadang-kadang juga karyawan operasional.
c.Manajer Puncak
Klasifikasi manajer tertinggi pada suatu organisasi. Manajemen puncak bertanggung jawab atas keseluruhan manajemen organisasi.

2. Fungsi-fungsi Manajemen
Dibawah ini dikemukakan beberapa contoh fungsi-fungsi manajemen yang antara lain menurut George R. Terry yang terdiri dari:
a. Planning (Perencanaan)
b. Organizing (Pengorganisasian)
c. Actuating (Penggerakan)
d. Controlling (Pengawasan)
Fungsi manajemen menurut Henry Fayol, yaitu:
a. Planning (Perencanaan)
b. Organizing (Pengorganisasian)
b. Coordinating (pengkoordinasian)
c. Commanding (Perintah)
d. Controlling (Pengawasan)
Fungsi manajemen menurut L. M. Gullick, yaitu:
a. Planning
b. Organizing
c. Staffing
d. Directing
e. Coordinating
f. Reporting
g. Budgeting
Fungsi manajemen menurut james A. F. Stoner, yaitu:
a. Planning
b. Organizing
c. Leading
d. Controlling
Dalam pembahasan berikut ini kami akan menjelaskan
secara garis besar sebagian dari fungsi-fungsi tersebut yaitu: planning, organizing, actuating, dan controlling.
a. Fungsi Perencanaan (Planning)
Sebelum seorang manajer dapat mengorganisasi, mengarahkan dan mengawasi mereka haruslah membuat rencana yang memberikan tujuan dan arah organisasi. Perencanaan adalah pemilihan dan penetapan kegiatan, selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa. Perencanaan adalah suatu proses yang tidak berakhir bila rencana tersebut telah ditetapkan, rencana haruslah diimplementasikan. Setiap saat selama proses implementasi dan pengawasan, rencana-rencana mungkin memerlukan perbaikan agar tetap berguna. Perencanaan kadang-kadang dapat menjadi factor kunci agar mampu menyesuikan diri dengan situasi dan kondisi baru secepat mungkin. Salah satu aspek yang juga pentinga dalam perencanaan adalah pembuatan keputusan (making decision), proses pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Adapun empat tahapan dalam perencanaan yaitu:
1) Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan
2) Merumuskan keadaan saat ini
3) Mengidentifikasikan segala peluang dan hambatan
4) Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan dalam pencapaian tujuan
Ada dua alas an mengapa perencanaan diperlukan yaitu untuk mencapai:
1) “Protektive benefits” merupakan hasil dari pengurangan kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan.
2) “Positive benefits” merupakan peningkatan pencapaian tujuan organisasi.
Ada beberapa manfaat perencanaan antara lain:
1) Membantu manajemen dalam menyesuikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan
2) Perencanaan terkadang cenderung menunda kegiatan
3) Perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk berinisiatif dan berinovasi. Kadang-kadang hasil yang paling baik didapat oleh penyelesaian situasi individu dan penganganan setiap masalah pada saat masalah tersebut terjadi
b. Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya. Dua aspek utama proses susunan struktur organisasi yaitu departementalisasi dan pembagian kerja. Departementalisasi adalah pengelompokan kegiatan-kegiatan kerja organisasi agar kegiatan-kegiatan sejenis saling berhubungan dapat dikerjakan bersama. Hal ini akan tercermin pada struktur formal suatu organisasi dan tampak atau ditujukan oleh bagan suatu organisasi. Pembagian kerja adalah perincian tugas pekerjaan agar setiap individu pada setiap organisasi bertanggung jawab dalam melaksanakan sekumpulan kegiatan. Kedua aspek ini merupakan dasar proses pengorganisasian suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif.
Ada beberapa beberapa pengertian organisasi yaitu:
1) Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan
yang paling efektif sumber daya yang ada
2) Bagaimana organisasi mengelompokkan kegiatan-kegiatannya, dan pada tiap kelompok diikuti dengan penugasan seorang manajer yang diberi wewenang untuk mengawasi anggota-anggota kelompok
3) Hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan-jabatan, tugas-tugas para karyawan
4) Cara para manajer membagi tugas – tugas yang harus di laksanakan
dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang
yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas tersebut.
Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas – tugas atau pekerjaan diantara para anggota organisasi dapat dicapai dengan efisien.
Ada beberapa aspek penting dalam proses pengorganisasian yaitu :
1) Bagan organisasi formal.
2) Pembagian kerja.
3) Departementalisasi.
4) Rantai perintah atau kesatuan perintah.
5) Tingkat – tingkat hirarki manajemen.
6) Saluran komunikasi.
7) Rentang manajemen dan kelompok informal yang dapat dihindarkan.
Bentuk struktur organisasi bermacam macam,tetapi pada pokoknya ada
empat yaitu : organisasi lain ( line organization ),organisasi garis dan staff ( line and staff organisation ), organisasi fungsional ( fungsional organization),dan organisasi matriks (matrix organization).



c. Fungsi Pengarahan (Actuating)
Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang
mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya secara efectif serta efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi.didalam manajemen,pengarahan ini bersifat kompleks karna disamping menyangkut manusia juga menyangkut berbagai tingkah laku dari manusia manusia itu sendiri.manusia denga berbagai tingkah lakunya yang berbeda beda.ada beberapa prinsip yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan dalam melakukan pengarahan yaitu :
1) Prinsip mengarah pada tujuan.
2) Prinsip keharmonisan tujuan.
3) Prinsip kesatuan komando
Pada umumnya pimpinan menginginkan pengarahan kepada bawahan dengan maksud agar mereka bersedia untuk bekerja sebaik mungkin, dan diharapkantidak menyimpang dari prinsip-prinsip diatas.
Cara-cara pengarahan yang dilakukan dapat berupa:
1) Orientasi
Merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
2) Perintah
Merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang yang beraada di bawahnya untuk melakukan atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu.
3) Delegasi wewenang
Dalam pendelegasian wewenang ini pimpinan melimpahkan sebagian wewenangnya yang dimilikinya kepada bawahannya.
d. Fungsi Pengawasan (Controlling)
Pengawasan merupakan suatu proses untuk menjamin bahwa tujuan organisasi dan manajemen tercapai. Pengawasan manajemen adalah usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, mambandingkan kegiatan nyata dengan tujuan satu perencanaan, membandingkan kegiatan nyata dengan standar kegiatan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan. Ada tiga tipe pengawasan yaitu:
1) Pengawasan Pendahuluan
Dirancang untuk mengantisifasi adanya penyimpangan dari tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum satu tahap kegiatan tertentu terselesaikan.
2) Pengawasan yang dilakukan bersama dengan pelaksanaan kegiatan
Merupakan proses dimana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan”double check” yang telah menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
3) Pengawasan umpan balik
Mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Permasalahan yang dihadapi oleh eksekutif dalam pengawasan karena harus melakukan koordinasi terhadap tiga komunikasi, koordinasi, dan kerjasama sangatlah vital sehingga diperlukan sekali perhatian terhadap masalah orang dan cara pengawasan terhadapnya.
B. Pengertian Seismic Survey
Pengertian survey menurut Moh. Nasir, Ph.D. (1999:65) adalah:
“Survey adalah suatu penelitian deskripstif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu”.

Pengertian survey menurut Drs. M. Suparmoko MA, Ph.D (1999:65) adalah:
“Survey adalah usaha yang secara sadar diarahkan untuk mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru ataupun penyaluran hasrat ingin tahu manusia”.

Pengertian Seismic menurut Hidayat Ardiansyah (1998:99) adalah:
“Bentuk gelombang elastis yang menjalar dalam medium bumi, beberapa medium yang dapat menjalarkan gelombang mempunyai komponen impedans, seismic, atau akustik.

Dari defenisi diatas pada umumnya survey bertujuan untuk membuat penilaian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program dimasa sekarang, kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut. Jadi survey bukan semata-mata dilaksanakan untuk membuat deskripsi tentang suatu keadaan melainkan juga untuk menjelaskan tentang hubungan anatara berbagai variabel yang diteliti, dari objek yang mempunyai unik atau individu yang cukup banyak. Oleh sebab itu dalam melaksanakan survey biasanya hasilnya dibuat suatu analisa secara kuantitatif terhadap data yang telah dikumpulkan.
Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa seismic survey adalah salah satu tahapan kegiatan eksplorasi yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran/informasi bahwa permukaan (subsurface image) dengan menggunakan prinsip pelajaran gelombang seismic/ gelombang getar
Gambar II.1
Penjalaran gelombang Seismic

Sumber www.hagi.or.id
Prinsip dasarnya adalah:
1. Menggunakan prinsip penjalaran gelombang pantul/gelombang getar.
2. Sumber energi dari dynamite, vibroseis, minisosie, airgun, dan lain-lain
- Dinamit ditanam dikedalaman 20-30 meter dibawah lapisan lapuk
3. Alat penerima (receivers).
- Geophone, hydrophone atau ditancap diatas permukaan tanah.
Dengan kata lain seismic survey dilakukan khususnya dilakukan untuk mengetahui struktur bawah permukaan berdasarkan perbedaan inpedansi akustik seismic termasuk dalam goefisika eksplorasi yang bertujuan untuk memperoleh sifat-sifat fisika bumi dengan memenfaatkan medan gelombang. Data yang diperoleh (penampang seismic dan atribut-atributnya) dipakai untuk mendukung data lainnya (data geologi dan logging ) dalam menentukan prospek tidaknya suatu daerah eksplorasi.(“Home page : http:/www.migas/Indonesia.com ; http:/www.migas/Indonesia.or.id, Jakarta September 2006)
1. Jenis-jenis seismic survey
a. Seismic refraksi
b. Seismic 2D
c. Seismic 3D
d. VSP (Vertikal Seismic profiling)
e. Borehole Seismic (SWD)
2. Keuntungan Seismic survey
a. Keuntungan teknis
1) Dapat memberikan gambaran bawah permukaan (imaging subsurface) lebih q
detail dan akurat, sehingga pola sebaran jebakan/ reservoir yang diperkirakan
mengandung minyak dan gas dapat diidentifikasikan dengan jelas.
2) Mampu menghasilkan model simulasi, karakter dan penyebaran reservoir yang
lebih realistis (khususnya Seismic 3D).
3) Mempunyai fleksibilitas yang tinggi dalam melakukan penggambaran dan
pemodelan bawah permukaan (khusus Seismic 3D) karena data 3D lebih
lengkap dan akurat

Gambar II.2
Gambaran dibawah permukaan (3D)

Sumber www.hagi.or.id
b. Keuntungan keekonomian
1) Perhitungan cadangan menjadi lebih pasti
2) Dapat mengurangi/memperkecil resiko kegagalan pemboran,
baiksumur eksplorasi, maupun pengembangan.
3) Memperpanjang masa produksi lapangan /field minyak yang ada
4) Dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi lapangan minyak.
5) Perencanaan operasional pemboran akan lebih efektif dan terarah
6) Pemberdayaan SDM disekitar areal survey

Gambar III.2
Kegagalan pengeboran ( dry hole )

Sumber : www.hagi.or.id
C. Pengertian Kapal
Pengertian Kapal berdasarkan UU No.21 tahun 1992 tentenag pelayaran adalah :
“Kapal adalah kendaran air dengan bentuk dan jenis apapun
yang digerakan dengan tenaga teknis ,tenaga angina atau tenaga tunda
termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis,kendaraan dibawah
permukaan air,serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak \
berpindah-pindah”.

Pengertian kapal menurut Directorat Jenderal Perhubungan laut mengatakan :
“Kapal adalah kendaraan air termasuk kapal keruk atau alat
apung lain.Dmeikian dengan menggunakan alat-alat penggerak
sendiri atau ditunda,kecuali pesawat terbang air,rakit dan kendaraan
air yang hanya digerakan dengan dayung atau galah-galah dorong”.

Pengertian kapal menurut Suyono (2005 :115) adalah
“Kapal adalah pengangkut penumpang dan barang dilaut,sungai dan sebagainya”.
Pengertian kapal seismic meneurut PT.Schlumberger adalah :
“Kapal seismic adalah kapal pencarian (research) yang dibangun atau
dirancang untuk membawa instrument-instrument seismic survey
dan dapat diopersikan sedemikian rupauntuk melaksanakan kegiatan
seismic survey”.
(Homepage : http:/www.slb.com.jakarta,maerch 2003).
Berdasarkan pengertian diatas ditarik kesimoulan bahwa kapal seismic
merupakan sarana transportasi diair yang dirancang khusus unutk membawa instrument-instrumen seismic survey dan dapat dioperasikan sedemikian rupa untuk melaksanakan kegiatan sedemikian rupa pula.
D. Analisis Hubungan
Menurut Sugiono ( 2004:11) menjelaskan bahwa analisis hubungan asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua veriabel atau lebih.Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapt berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan ,dan mengontrol suatu gejala.pada penelitian ini terdapat dua variable yang dihubungkan.Sugiono (2004:29-31) menjelaskan bahwa terdapat tiga bentuk hubungan yaitu :
1. Hubungan simetris
Hubungan simetris adalah suatu hubungan sua variable atau lebih yang kebetulan munculnya bersamaan.
2. Hubungan kausal/sebab akibat
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat,jadi disini variable indenpenden (variable yang mempengaruhi ) dan variable yan devenden (variable yang dipengaruhi). Hubungan sebab akibat bila mana X mempengaruhi Y.
Sebagai contoh yakni bila harga bahan bakar minyak naik maka harga bahan makanan pokok akan naik.sehingga yang menyebabkan bahan makanan pokok naik adalah adanya kenaikan harga bahwa bahan bakar minyak.
E. Hubungan antara Pengaruh Manajemen Operasional
PT.Schlumberger terhadap Kinerja Seismic Survey MV.Geo Emerald
tahun 2007
Dari berbagai teori diatas pengertian dari pengaruh manajemen operasional PT.Schlumberger terhadap kinerja seismic survey kapal MV.Geo Emerald dapat diartikan suatu system manajemen operasional perusahaan yang berperan penting dalam menunjang kegiatan research vessel yang dilakukan untuk mendapatkan data seismic guna menemukan lokasi minyak bumi melalui berbagai macam proses dan tahapan-tahapan tertentu.dalam hal ini kegiatannya akan didukung oleh surveyor yang memiliki keterampilan geodesic.
Untuk data manejemen PT.Schlumberger (variable X ) dan kinerja seismic survey MV.Geco Emerald ( variable Y ) diambil data cross section berupa kuesioner dari bagian manajemenoperasional PT.Schlumberger.
F. Kisi – kisi instrument penelitian
Kisi – kisi instrument penelitian dibuat untuk memberikan acuan pada pembuatan kuesioner melalui indicator dan dimensi.
1. Berdasarkan Richart L.Draft (2006: 220) factor-faktor yang
mempengaruhi manajemen operasional dan releven dengan topic penelitian
adalah sebagai berikut :
a. Akses komunikasi dengan manajemen level .
b. Perananan operasional yang sestimatis.
c. Koordinasi dengan unit terkait.
d. Fasilitas penunjang pekerjaan.
e. Productivitas operasional
2. Disisi lain menurut Hidayat Ardiansyah (1998:105) Faktor –
factor yang mempangaruhi kinerja seismic survey adalah sebagai berikut :
a. Hasil survey
b. Waktu yang idak productif (down time).
c. Peralatan survey dan telekomunikasi.
d. Operasi harian kapal.
e. Audit Schlumberger standard an peraturan internasional
3. Dengan demikian,kisi-kisi instrument yang akan digunakan pada penelitian
ini adalah sebagai berikut :




Tabel II.4
Kisi-kisi instrument penelitian
Faktor Dimensi Indikator
Manejemen Operasional 1.Akses komunikasi dengan
manejemen level Akses Komunikasi
Prosedure Komunikasi
2.Perencanan operasional
yang sistimatis Standard Operasi
Aspek-Aspek Pendukung
3.Kordinasi dengan unit terkait Unit lintas Manajemen
Personel Incharge
4.Fasilitas penunjang pekerjaan Pelengkap fasilitas
Akses ide dan saran
5.Produktivitas operasional Optimalisasi usaha
Keuntungan Perusahaan
Kinerja Seismic Survey 1.Hasil survey Peran menejemen operasional
Peralatan yang memadai
2.Waktu yang tidak produktif
(down time) Keadaan cuaca & lalu lintas
Keterampilan awak kapal
3.Peralatan survey dan telekomunikasi Penyuplay peralatan survey
Akses telekomunikasi
4.Operasi harian kapal Penyewaan kapal
Peralatan dan kecepatan kapal
5.Audit Schlumbeger standard
dan peraturan internasional Audit
Implementasi peraturan

Readmore »»

PENGARUH GAS LEMBAM UNTUK MENCEGAH TERJADINYA KEBAKARAN DALAM PENANGANAN MUATAN DI KAPAL MT. WINDSONG

FAHMI PARDIANSYAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG.
Sebuah kapal laut adalah sebagai salah satu alat sarana transportasi air yang sangat penting dan efisien dalam pengangkutan barang (muatan) dari satu tempat ke tempat yang lainya, salah satunya adalah kapal tanker atau kapal muatan minyak yaitu kapal yang mempunyai fungsi atau didesain khusus untuk memuat muatan cair,diantaranya yaitu untuk mengangkut muatan minyak baik itu minyak mentah maupun minyak hasil olahan atau product dalam bentuk curah.
Berbicara tentang minyak tentu erat kaitannya dengan bahaya yang bisa terjadi setiap saat, dalam hal ini adalah bahaya kebakaran dan ledakan yang dapat menyebabkan pencemaran dilaut akibat dari tumpahan yang ditimbulkannya.
Melihat dari konstruksinya yang didesain sedemikian rupa, dengan memuat muatan yang mudah menyala bahkan bisa meledak, hal tersebut disebabkan karena adanya gas yang dihasilkan dari penguapan muatan tersebut. Dimana penguapan tersebut yang secara terus-menerus dapat menimbulkan ledakan, maka sistem gas lembam ini adalah sistem yang tepat untuk mencegah terjadinya ledakan pada tanki muatan.
Berdasarkan pada keadaan itu maka para ilmuwan menciptakan suatu sistem gas lembam yaitu suatu sistem yang dengan memasukan gas lembam ke dalam tangki muatan dimana kandungan oksigen yang berada didalam tangki muatan tersebut dapat dijaga dengan konsentrasi kadar oksigennya selalu berada dibawah 8% dari volumenya.
Menyadari akan bahaya yang mengancam keselamatan jiwa dan pencemaran yang di timbulkan dari kapal tanker pada saat beroperasi, maka waktu yang paling tepat untuk mengoperasikan sistem gas lembam tersebut adalah pada saat kapal melakukan pemuatan (Loading), pembongkaran(Discharging) atau pada saat pembersihan tangki (Tank Cleaning).
Berdasarkan pemikiran diatas, penulis menyusun skripsi mengenai masalah tersebut dengan mengambil judul :
“PENGARUH GAS LEMBAM UNTUK MENCEGAH TERJADINYA KEBAKARAN DALAM PENANGANAN MUATAN DI KAPAL MT. WINDSONG”
Menyadari dan mengetahui akan pentingnya peranan sistem gas lembam di kapal-kapal tanker sebagai salah satu sistem keselamatan yang dapat mengurangi resiko kecelakaan, baik kebakaran maupun ledakan pada saat pengoperasian, maka dari itu penggunaan sistem ini di tekankan dalam regulation 62 chapter II-2 dari solas convention 1974, dan peraturan-peraturan serta kegunaan sistem ini di sempurnakan lagi dalam konvensi international di London mengenai; tanker safety dan pollution prevention (TSPP) protocol 1978. dan sebagai tambahan baru regulation 62 (a) mensyaratkan bahwa inert gas system (IGS) harus di rencanakan, di bangun dan di test sesuai ketentuan-ketentuan dan memenuhi peraturan-peraturan IMO. Dalam hal ini pemerintah adalah (anggota IMO) di mana kapal tersebut diregristasikan (Nationality).


B. PERUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan selama bekerja di atas kapal MT.WINDSONG, berkenaan dengan pengoperasian instalasi gas lembam diatas kapal sangat penting dan vital keberadaanya dalam meningkatkan keselamatan jiwa dan mencegah terjadinya kebakaran serta mencegah terjadinya pencemaran laut,maka masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah :
1. Faktor apa yang menyebabkan masih tingginya kadar oksigen yang masuk ke tanki muatan?
2. Upaya apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga optimalnya kinerja sitem gas lembam tersebut?

C. PEMBATASAN MASALAH.
Di dalam pengoperasiannya instalasi gas lembam masih saja terdapat gangguan-gangguan diantaranya yang akan di ambil sebagai batasan masalah di atas kapal MT. WINDSONG adalah tentang :
1. Tingginya kadar oksigen di dalam sistem.
2. Kurangnya perhatian dari masinis, anak buah kapal dalam hal perawatan dan pemeliharan komponen Sistem Gas Lembam tersebut.

D. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN.
1. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan observasi dalam pengkajian yang hendak dicapai dari penelitian dan penulisan skripsi ini, adalah:
a. Untuk memahami dan mengerti akan pentingnya peranan sistem gas lembam dalam prosedur penanganan bongkar muat dan perawatan yang di lakukan pada komponen instalasi gas lembam.
b. Untuk peningkatan keselamatan dan pencegahan terhadap kebakaran dan ledakan pada saat pengoperasian kapal.
2. Manfaat dari penulisan skripsi ini adalah:
a. Untuk meningkatkan pengetahuan dan pamahaman tentang jumlah kandungan oksigen yang diizinkan didalam tanki muatan minyak di kapal tanker.
b. Mengerti dan memahami akan pentingnya perawatan terhadap setiap komponen sistem gas lembam untuk menjamin kelancaran kinerja gas lembam tersebut.
c. Penulisan ini diharapkan dapat berguna bagi para pembacanya dan dapat memberikan gambaran akan pentingnya pemahaman dan perawatan yang di ketahui dan dilakukan pada instalasi gas lembam, sehingga kegiatan penanganan muatan dapat tercapai sesuai harapan.

E. SISTEMATIKA PENULISAN.
Untuk mempermudah dalam hal pemecahan masalah serta pemahaman dalam mempelajari skripsi ini,maka penulis membuat sistematika penulisan yang terbagi dalam lima bab.Adapun susunan kelima bab tersebut adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini menjelaskan mengenai uraian yang melatar belakangi pemilihan judul serta tujuan dan kegunaan dari pembahasn masalah, perumusan yang akan di ambil, pembatasan masalah dan sistematika penulisan untuk dapat dengan mudah di pahami.
BAB II: LANDASAN TEORI
Dalam bab ini berisikan kajian pustaka, tinjauan pustaka sebaga studikepustakaan dan sebagai bahan referensi serta kerangka pemikiran.
BAB III: METODE PENELITIAN
Dalam bab ini menguraikan tentang waktu dan tempat penelitian, teknik pengumpulan data yang berkaitan dengan masalah yang diangkat serta teknik analisis yang di gunakan dalam menganalisis suatu masalah.
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan diuraikan tentang deskripsi data, analisis data, alternatif pemecahan masalah serta evaluasi alternatif pemecahan masalah.
BAB V : PENUTUP
Dalam bab penutup ini mengemukakan kesimpulan yang telah dibuat berdasarkan hasil analisis, dan saran yang menguraikan usul-usul kongkrit untuk penyelesaian masalah.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan sistem gas lembam ini bukanlah suatu konsep baru, sistem ini pertama-tama digunakan pada kapal-kapal tanker di Amerika-Serikat sejak tahun 1925, dengan bermacam-macam alasan sistem ini dilupakan atau ditinggalkan selama beberapa tahun. Perusahaan “Sun oil” di Philadelphia adalah yang pertama kali menggunakan sistem ini sebagai alat keselamatan pada kapal-kapal tanker mereka pada tahun 1932, karena sebelumnya telah terjadi ledakan besar pada salah-satu kapalnya. Sistem yang mereka ciptakan waktu itu begitu sederhana namun terbukti sangat berhasil.
Kemudian British Petrolium atau B.P Tanker menggunakan sistem gas lembam ini pada kedua kapal steam pengangkut “Crude oil” pada tahun 1961. kebijakan ini dilanjutkan dan sejak tahun 1963 semua kapal pengangkut “Crude Oil” dilengkapi dengan sistem ini. Menyusul kemudian penggunaan sistem ini ditekankan dalam SOLAS Convention 1974 dan peraturan-peraturan serta penggunaannya disempurnakan lagi dalam konverensi internasional di London mengenai “Tanker Safety and Pollution Prevention, atau TSPP 1978”.
Kapal tanker “Product Carrier” yangn mengangkut minyak putih mulai dilengkapi dengan Inert Gas Sistem sejak tahun 1968.

B. KERANGKA PIKIR PENELITIAN
Meninjau dari pengalaman yang telah ada bahwa peranan instalasi gas lembam sebagai suatu alat keselamatan, yang dengan cara memasukkan gas lembam ke dalam tangki-tangki muat pada kapal tanker adalah tidak dapat dipisahkan dari operasional kapal dalam mendukung kelancaran proses penanganan muatan dan kelancaran pengoperasian kapal.
Gangguan-gangguan yang masih ada dan terjadi pada sistem gas lembam adalah masih terdapatnya sumber-sumber penyalaan bahan bakar (gas hydrocarbon) dan oksigen yang cukup untuk itu.
Telah diketahui bahwa prinsip dari sistem gas lembam ini adalah untuk mempertahankan kadar oksigen yang rendah didalam tangki muat sehingga tidak menimbulkan bahaya kebakaran ataupun ledakan. Tetapi pada kenyataannya walaupun sudah dilengkapi dengan sistem gas lembam Namun masih saja terjadi kebakaran dan ledakan seperti pada Kapal MT. BETELGEUSE yang meledak di Irlandia (France Owned Tanker) 8 januari 1979 yang mengakibatkan 50 orang meninggal. Hal ini dikarenakan masih adanya kadar/kandungan oksigen di dalam tangki muatan yang cukup untuk terjadinya proses kebakaran maupun ledakan.
Dari hal-hal yang terjadi diatas kita bisa mengetahui dan mengambil pemikiran bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kadar (kandungan) oksigen yang tinggi akibat masih kurangnya penanganan dalam hal perawatan dan pemeliharaan oleh awak kapal, diantaranya:
1. Tidak sempurnanya proses pembakaran yang terjadi pada Inert gas Generator.
2. Diperlukannya pemahaman mengenai sistem gas lembam, dalam aspek teori maupun dalam hal perawatan pada sistem instalasi gas lembam.
Maka dari wacana diatas timbul suatu pemecahan masalah, yang dapat mengurangi bahkan mencegah terjadinya gangguan pada sistem gas lembam dengan menerapkan beberapa strategi perawatan yang tepat dan sesuai kebutuhan dimana efektifitas dan efisiensi dari sistem gas lembam dapat dijaga sehingga dapat memberi dampak yang lebih baik pada pengoperasian kapal.

C. DEFINISI OPERASIONAL.
Untuk mengurangi resiko terjadinya suatu kebakaran dan ledakan di atas kapal tanker maka perlu ditiadakan adanya sumber api dan udara (atmosfer) yang dapat terbakar yang secara bersamaan, timbul ditempat yang sama, dan pada waktu yang sama, tidaklah selalu dapat dijamin tidak adanya kedua faktor ini, sehingga tindakan kewaspadaan umum diatas kapal tanker perlu di laksanakan dengan tujuan meniadakan salah satu dari padanya.
Berdasarkan pernyataan tersebut maka jelaslah bahwa kebakaran baru bisa terjadi kalau memenuhi persyaratan dari Segi Tiga Api, dalam bahasan ini adalah;
1. Source of ignition – asal dari percikan api
2. Fuel - dalam hal ini hydrocarbon yang memenuhi persyaratan
3. Oxygen yang cukup untuk dapat menimbulkan kebakaran.
Kalau salah satu dari 3 unsur ini tidak ada atau tidak terpenuhi persyaratan jumlah (kadarnya) maka tidak akan terjadi kebakaran.
Perlu diketahui sedikit mengenai sumber penyalaan (source of ignition) yang pada umumnya ada diatas kapal tanker, beberapa diantaranya :
1. Nyala api terbuka
a. Merokok, pada waktu berlayar dianjurkan pada ruangan yang telah ditentukan. Nahkoda akan menetapkan dimana merokok diperbolehkan. Jangan sekali-kali merokok diluar atau pada geladak terbuka.
b. Korek api gas, korek api gas untuk membakar rokok tidak diijinkan di bawa ke kapal, jika korek api gas terjatuh diatas dek maka korek api itu bisa bekerja menimbulkan api.
c. Korek api (geretan), hanya menggunakan korek api dari kayu dan gunanya yang berlabel safety matches. Macam-macam lain dari korek api adalah merupakan suatu ancaman diatas kapal.
2. Partikel – partikel yang terbang; jelaga dari funnel ketika kapal melakukan shoot blow (meniupkan jelaga keluar melalui funnel), percikan api dari pengelasan dan pemotongan bahan.
3. Percikan-percikan api dari sumber-sumber mekanis dan pergesekan (alat-alat perkakas tangan) Perkakas tangan yang terbuat dari logam dapat menyebabkan bunga api karena saling berbenturan satu sama lain.
4. Senter (flashlight); lampu-lampu senter (baterry) dapat menyebabkan bunga api ke uap yang mudah terbakar. Lampu-lampu senter yang digunakan harus lampu senter terbuat khusus (lampu senter yang aman dan di akui), lampu senter jenis ini kedap terhadap gas dan air.
5. Perlengkapan domestik; semua peralatan listrik termasuk lampu-lampu harus diperiksa
6. Antenna radio transmitter; pemakaian pemancar radio dalam frekuensi tinggi disekitar antenna terdapat gas hydrocarbon, karena gelombang radio dapat berubah menjadi potensi listrik.
7. Allmunium; jangan sekali-kali menyeret almunium atau metal-metal yang ringan sepanjang deck/geladak karena gesekan dapat menimbulkan percikan api.
8. Pakaian sintetik; meskipun tidak menimbulkan elektrostatis, tetapi dalam pemakaian dalam temperatur tinggi dapat meleleh/terbakar.
9. Petir (halilintar) yang terjadi selama hujan.
10. Listrik statis; prinsip-prinsip dari bahaya elektrostatis menimbulkan bahaya-bahaya kebakaran dan ledakan pada waktu penanganan minyak bumi dan operasi kapal tanker dengan tidak ada kekecualian.
Pengalaman telah membuktikan bahwa manusia telah bersusah payah untuk membatasi source of ignition untuk dihilangkan dari fire triangle dalam pengoperasian tanker tapi tidak pernah berhasil.
Dalam keadaan inilah peranan dari intalasi gas lembam sangat di perlukan, sesuai dengan difinisinya Inert gas system adalah: suatu sistem dengan memasukkan gas lembam dari gas buang hasil dari pembakaran Inert gas generator ke dalam tangki muatan untuk mendesak udara terutama oxygen keluar dari dalam tangki muatan sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran atau ledakan dalam tangki muat tersebut.
Prinsip dari inert gas system adalah untuk mempertahankan kadar oxygen yang rendah didalam tangki dengan memanfaatkan gas buang dari hasil pembakaran Inert gas generator.
Adapun gas buang yang digunakan harus memenuhi kualitas pembakaran yang baik yaitu harus memastikan bahwa kandungan oxygen pada gas buang selalu kurang dari 8% dari volume, tetapi mungkin juga untuk mencapai kandungan oxygen 5% dari volume dengan pemasangan instalasi yang lebih maksimal.
Dan alasan utama penggunaan gas buang dari Inert gas generator ini adalah :
1. Kadar oxygen dalam gas tersebut cukup rendah jika Inert gas generator terpelihara dengan baik dan pembakaran cukup sempurna sehigga dapat diatur kurang dari 8%.
2. Pemakaian Inert gas pada waktu kapal loading, Discharging dan tank clening. Dan jika sistem gas lembam sudah bekerja, penambahan gas lembam hanya sekali-kali saja untuk mempertahankan kondisi tekanan gas lembam pada tangki muatan dimana pada waktu itu umumnya kapal berada di pelabuhan.
Sebagai gambaran berikut ini adalah contoh komposisi gas buang dari Inert gas genertor yang akan digunakan sebagai gas lembam :
1. N2 – 77% by volume dan sifatnya lembam (inert) gas ini tidak mempengaruhi kondisi atmosfer dalam tangki nanti, jadi tidak perlu dikhawatirkan.
2. CO2 – 13% by volume sifatnya lembam (inert) dan toxic (beracun) gas ini tidak akan membantu adanya combustion (pembakaran) gas ini tidak perlu di ragukan untuk dimasukkan ke dalam tangki walaupun beracun dan dapat menimbulkan karat.
3. H2O – 5% by volume sifatnya lembam (inert) bisa di terima apabila kadarnya rendah.
4. O2 – 4% by volume sudah jauh dibawah batas terbakar (flammable), bisa diterima.
5. SO2 – 0,3% sifatnya dapat menimbulkan karat dan beracun, gas ini perlu sedapat mungkin dikeluarkan dari gas lembam karena sifatnya yang dapat menimbulkan karat.
6. Nox – 0,04% by volume, sifatnya beracun bisa diabaikan karena kadarnya rendah.
7. CO – 0,1% by volume, sifatnya beracun bisa diabaikan karena kadarnya rendah.
8. Kotoran-kotoran dan abu (shoot and ash) ± 150 mg/m³. barang-barang (zat) ini harus sedapat mungkin dikeluarkan karena kehadiran zat-zat ini dapat menyumbat sistem, dan menimbulkan endapan-endapan pada instalasi gas lembam yang mempengaruhi kerja sistem ini.
Jadi yang penting untuk dikeluarkan dari inert gas adalah gas SO2, Shoot and Ash dan temperatur diturunkan (dinginkan).
Gas Sulphur dioxide (SO2) harus dapat dikeluarkan dari gas lembam yang terbuat dari hasil pembakaran Inert gas generator, kandungan gas sulphur dioxide tersebut akan terbawa oleh air pendingin yang berfungsi sebagai pendingin untuk mendinginkan temperature dari gas lembam tersebut
Selanjutnya air pendingin itu dibuang ke laut dan proses ini terus berlangsung selama inert gas sistem masih beroperasi.
SO2 + H2O – H2SO3 sifatnya corrosive dapat dikeluarkan bersama-sama air pencuci tadi.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa dengan memasukkan gas lembam pada tangki muat minyak, ledakan dan kebakaran dalam tangki muat dapat dihindari karena kadar oxygen dalam gas tersebut rendah, dan dengan masuknya sistem gas lembam tersebut dengan sedikit tekanan akan dapat mendesak gas hydrocarbon dari dalam tangki sampai dibawah apa yang disebut “Lower flammable Limit”
Batas teratas disebut “Upper Flammable Limit “ atau UFL. Demikian juga kalau konsentrasi gas hydrocarbon diatas batas ini maka juga tidak dapat menimbulkan kebakaran (Too Rich).
Flammable range untuk gas hydrocarbon dari bermacam-macam jenis minyak atau petroleum berbeda-beda tapi sesuai pengalaman batas tersebut antara 1 ½% sampai 11% Hydrocarbon gas by volume. Kadar oxygen dalam udara segar adalah 21% dan kalau kadar O2 dikurangi di bawah 10% maka sudah tidak cukup untuk menimbulkan nyala api (Ignition). Sebab itu untuk menjadikan tangki muat jadi inert harus dimasukkan inert gas kedalam tangki tersebut sampai dibawah batas kadar oxygen yang bisa membantu menimbulkan ignition.
Karena itu di ambil batas yang aman ialah tangki muat disebut inert kalau kadar O2 dibawah 8% by volume, untuk hydrocarbon guna mendapatkan campuran gas hydrocarbon dan untuk tidak menimbulkan ignition maka satu-satunya jalan adalah mengurangi kadar hydrocarbon di bawah batas “Critical Dilution Line” . Pada keadan ini maka walaupun ditambah dengan udara segar O2 tidak akan sampai melalui “Flammable Range” sampai kadar oxygen menjadi 21% by volume. Proses ini disebut gas free for entry the tank.
Campuran gas hydrocarbon dan udara tidak dapat dinyalakan kalau komposisinya tidak terletak dalam jangkauan konsentrasi gas dalam udara yang disebut “flammable range” (jangkauan bakar).
Batas bawah dari jangkauan ini di sebut “lower flammable limit” (batas bakar bawah) adalah suatu konsentrasi hydrocarbon yang apabila dibawah dari konsentrasi tersebut hydrocarbon tidak cukup untuk mendukung pembakaran.
Batas atas dari jangkauan yang disebut “upper flammable limit“ (batas bakar atas) adalah sesuatu konsentrasi hydrocarbon yang apabila diatas dari konsentrasi tersebut udara tidak cukup untuk mendukung pembakaran hydrocarbon.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa inert gas system yang digunakan dikapal adalah dengan memanfaatkan gas buang hasil pembakaran dari Inert gas generator khusus didesain untuk keperluan instalasi gas lembam.
Melihat akan kenyataan pentingnya peranan sistem gas lembam pada kapal-kapal tanker, menjadikan sistem ini suatu sumbangan yang sangat berharga di dalam dunia pelayaran. Yang mana hal ini menimbulkan rasa keingintahuan para pembacanya dan untuk mempermudah dalam mempelajarinya maka di bawah ini akan di jelaskan mengenai pengertian dari istilah-istilah yang ada :
1. Flash point (titik bakar), berarti suhu terendah dimana suatu zat atau bahan bakar cukup mengeluarkan uap dan terbakar/menyala secara terus-menerus bila diberi sumber panas.
2. Flammable, berarti mudah menyala.
3. Flash point (titik nyala), berarti suhu terendah dimana suatu cairan mengeluarkan gas yang cukup untuk membentuk suatu campuran gas yang dapat terbakar sesaat jika ada sumber penyalaan. Suhu ini diukur di laboratorium memakai alat yang standart dengan mengikuti prosedur yang sudah ditentukan.
4. Flue gas, berarti gas sisa pembakaran yang diambil dari ketel (boiler) di kamar mesin.
5. Gas freeing (pembebasan gas) berarti memasukkan udara segar ke dalam tangki dengan tujuan mengeluarkan gas-gas beracun, serta meninggalkan kadar oxygen sampai 21% dari volume.
6. Gas lembam, berarti gas atau campuran gas yang tidak cukup mengandung oxygen untuk mendukung pembakaran hydrocarbon, misalnya gas hasil pembakaran Inert gas generator.
7. Inerting, berarti memasukkan gas lembam ke dalam tangki dengan tujuan untuk mencapai kondisi lembam seperti didefinisikan dalam “kondisi lembam“.
8. Kebakaran, berarti bahaya api yang disebabkan oleh terbentuknya proses segitiga api, (bahan bakar, panas dan oxygen) yang menghasilkan suatu reaksi berantai antara ketiga unsur tersebut secara tepat dan seimbang.
9. Ledakan, berarti pembakaran yang terjadi dalam ruang tertutup, karena terjadi penambahan tekanan pada ruang tertutup maka mengakibatkan peledakan.
10. Listrik statis, berarti aliran listrik yang terjadi karena perpindahan elektron-elektron dari molekul-molekul yang muatannya berlainan, listrik statis ini menimbulkan bunga api yang dapat menyalakan gas yang ada disekitarnya.
11. Plant gas lembam, berarti semua perlengkapan yang dipasang khusus untuk menghasilkan gas lembam yang dingin, bersih dan bertekanan beserta alat yang mengontrol penyalurannya ke dalam sistem tangki muat.
12. Purging, berarti memasukkan gas lembam pada saat tangki dalam keadaan kosong sehingga menjadi lembam.
13. Sistem distribusi gas lembam, berarti semua pemipaan, kerangan-kerangan dan pasangan-pasangan yang berhubungan dengan distribusi gas lembam dari plant ke tangki-tangki muat, pembuangan gas ke atmosfer dan perlindungan tangki dari tekanan lebih atau vakum.
14. Sistem gas lembam, berarti plant (penghasil) gas lembam dengan sistem distribusi gas lembam beserta sarana-sarana untuk mencegah aliran balik yang mengandung gas muatan ke ruangan kamar mesin, alat ukur yang tetap maupun jinjing dan alat pengontrol (control devices).
Dan berikut adalah pengertian dari pada komponen-komponen utama yang di butuhkan:
1. Inert gas scrubber.
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran seperti jelaga dari flue gas untuk dijadikan inert gas dan juga sebagai tempat pendingin flue gas tersebut.
2. Demister separator.
Adalah suatu alat yang berfungsi sebagai penyaring gas yang sudah dicuci dan didinginkan di scrubber masuk ke demister dimana masih ada sisa-sisa liquid terutama air.
3. Inert gas blower.
Adalah alat yang berfungsi sebagai pompa pengantar inert gas kedalam tangki-tangki muatan.
4. Deck water seal.
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk mencegah jangan sampai terjadi aliran balik dari gas hydrocarbon. Dari tangki-tangki muat ke daerah kamar mesin atau daerah-daerah yang seharusnya bebas gas dimana alat inert gas terpasang.



5. Non return valve.
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk mencegah kebocoran gas hydrocarbon sebagai akibat dari back flow dari tangki muatan dan juga untuk mencegah tekanan balik dari cargo gases.
6. Vent mast riser.
Adalah suatu alat yang berfungsi sebagai pembuang gas terutama pada saat loading dan freeing gas, juga berfungsi untuk tempat memasang savety valve, biasa disebut vent valve.
7. Control system.
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengontrol bekerjanya alat-alat gas lembam dengan baik dan normal juga untuk memberikan tanda alarm bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
8. Oxygen analyzer.
adalah suatu alat yang berfungsi untuk secara tetap dapat mengontrol kualitas dari gas lembam dan mempertahankan konsentrasi oxygen (O2) dalam gas tersebut di bawah batas yang ditentukan.
9. Pressure vacuum breaker (P.V breaker).
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk menjaga tangki muat dari kenaikan atau penurunan tekanan yang tidak normal.


Readmore »»

ANALISA COMPANY SOCIAL RESPONSIBILITY ( CSR ) DALAM PRAKTIK DI INDONESIA

ADMI SATRIA

1.1 Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan ekonomi Amerika serikat meningkat tujuh kali lipat sejak 1950 sampai 2000.Perdagangan internasionalnya dengan label perusahaan multinasional,yang beroperasi diluar Amerika Serikat,bahkan bertumbuh dengan cepat.Indeks Dow Jones yang secara luas digunakan sebagai indikator nilai saham saham dibursa New York pun meningkat dari 3.000 pada 1990 menjadi 11.000 pada 2.000.Meski saat ini Amerika tengah mengalami masalah ekonomi,Namun senat telah menyetujui permintaan Presiden Bush,untuk menyuntik dana sebesar 700 Milliar dollar agar masalah keuangan dapat segera teratasi.

Tidak salah, apabila suatu perusahaa berjuang sekeras mungkin menjalankan roda bisnisnya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun,Indikator – indikator Ekologi menunjukkan akibat kebijakan yang salah dari growth mania dikalangan pelaku bisnis,Menyebabkan degradasi lingkungan yang luar biasa.Laster R.Brown dalam bukunya Eco-Economy telah memperingatkan perlunya upaya pemeliharaan ekosistem yang menjadi pendukung kehidupan perusahaan.

Sesuai dengan hukum alam, pendapatan yang berasal dari pemanfaatan fasilitas alam akan berkelanjutan bila daya dukung lingkungan tersebut rusak, pendapatan masyarakat sekitar akan menurun dan mereka akan menganggap perusahaan sebagai penyebabnya.

Tanggung jawab pertama suatu bisnis adalah tanggung jawab ekonomi untuk mendapatkan laba, agar perusahaan dapat tetap menjalankan bisnisnya, melayani pelanggannya dan menciptakan lapangan kerja.Akan tetapi , masyarakat meminta agar semua perusahaan juga memenuhi tanggung jawab sosial, etika, dan hukum. Sistem bisnis kita beroperasi dalam suatu lingkungan yang perilaku etisnya, tanggung jawab sosialnya, peraturan pemerintah dan undang-undang saling berkaitan satu sama lain.

Salah paham yang umum terjadi adalah kontradiksi antara etika dan laba. Sebenarnya banyak perusahaan yang sadar, bahwa perilaku sesuai etika dan bertindak sebagai warga korporasi yang baik, akan mendatangkan banyak manfaat untuk kelangsungan bahkan pertumbuhan perusahaan dalam waktu jangka panjang (sustainable growth). Namun, sering kali kesadaran itu tidak diterapkan sesuai harapan.

Dengan melaksakan tanggung jawab sosialnya, ada beberapa manfaat yang akan dirasakan oleh perusahaan. Pertama, perusahaan akan terhindar dari reputasi negatif perusak lingkungan, yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek tanpa memedulikan akibat dari perilaku buruknya. Kedua, kerangka kerja etis yang kokoh dapat memandu para manajer dan karyawan menghadapi masalah seperti permintaan lapangan kerja dari lingkungan sekitarnya. Ketiga, perusahaan etis mendapat rasa hormat dari kelompok inti masyarakat yang sangat membutuhkan perusahaan ini eksis, terutama pelanggan dan karyawanya. Terakhir yang keempat, banyak perusahaan yang sadar bahwa perilaku etis membuat perusahaan aman dari gangguan lingkungan sekitar, sehingga dapt beroperasi dengan lancar. Utamanya tentu juga untuk menjamin berkelanjutan usaha. Jadi pelaksanaan tanggung jawab sosial bukan hanya sekedar menjaga atau menjalin hubungan harmonis, antara Perusahaan dan Masyarakat sekitarnya, tetapi bermakna jauh lebih besar lagi.

Banyak kasus di indonesia yang melibatkan perusahaan besar, menghadapi gugatan masyarakat sekitar. Bahkan, kasus-kasus tersebut sering kali mendapatkan sorotan tajam dari masyarakat dan media massa. Dampak dari berbagai kasus tersebut, beberapa perusahaan besar mulai mengubah sikap tertutupnya selama ini.PT FREEPORT INDONESIA misalnya. Perusahaan tambang yang beroperasi di Mimika Papua ini, sekarang menyisihkan sebagian dari pendapatnya untuk memberi manfaat bagi pengembangan masyarakat setempat melalui dana Kemitraan Freeport.

Namun, program pengembangan masyarakat (community development) yang dilakukan perusahaan sebagai salah satu dari 7 dimensi tanggung jawab sosial atau CSR (Corporate social Responsibility ) itu, masih disikapi dengan penuh skeptis oleh banyak pihak yang sebelumnya paling gencar “ menyerang” PT Freeport. Sebenarnya kecurigaan terhadap CSR telah dicetuskan jauh sebelumnya oleh Milton Friedman dan pengikutnya yang murni melihat bisnis sebagai alat pencari keuntungan (profit seekers) semata.

Para akademis sosial, hukum serta manajement, juga masih memperdebatkan apakah CSR itu suatu inisiatif sukarela atau kewajiban sebagai pembayar kesalahan mereka agar dimanfaatkan sehingga bisa terus beroperasi. Apalagi banyak klaim perusahaan yang katanya telah melaksanakan CSR, ternyata hanya promosi sesaat saja, karena hanya dilakukan ketika terdesak.

Kiranya memang wajar dan sangat sah jika pendapat itu muncul mengingat pengalaman sebelumnya menunjukkan banyak peusahaan yang sangat tertutup dari masyarakat nya berubah setelah diprotes. Mereka baru tergopoh-gopoh menjalankanprogram CSR nya. Namun, jika dilihat lebih luas, sebenarnya perubahan tersebut terjadi diseluruh dunia melibatkan perusahaan-perusahaan besar tanpa masalah dengan lingkungan nya.PT KALTIM PRIMA COAL, misalnya sukses menjalankan program baik bidang lingkungan, bidang ekonomi maupun bidang sosialsehingga menerima penghargaan tertinggi ( The Most Outstanding Recognation Award dalam CSR Award’05 yang diselenggarakan oleh SURINDO bekerja sama dengan CFCD/ Corporate Forum for Community Depelopment, majalah SWA dan MARKPLUS ). Para penerima penghargaan lainya, seperti PT HM SAMPOERNA Tbk. Menerima penhargaan khusus bidang lingkungan, melalui program kemitraan dengan petani tembakau yang aling menguntungkan, juga menunjukan sikap tersebut. Selain membantu petani tembakau yang saling menguntungkan, juga menunjukkan sikap tersebut. Selain membantu petani tembakau agar berkembang, sampoerna juga mendapatkan tembakau bermutu sesuai standar perusahaan. Begitu pula program pembinaan tukang roti dan pedagang martabak gerobak yang dilakukan PT BOGASARI. Program tersebut selain program pemberdayaan masyarakat, juga berdasarkan startegis bisnis yang jitu, sekaligus sebagai media promosi yang efektif sebagai produsen bahan baku yang bermutu tinggi. Atau program pertanian terpadu yang digalakkan PT RIAU ANDALAN PULP AND PAPER, juga pantas dipuji sebagai pemberdayaan masyarakat yang bermanfaat, sekaligus memiliki nilai sttategis bagi perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dalam tugas akhir ini masalah yang dirumuskan adalah implementasi dari aplikasi CSR dalam membantu seorang manager dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan dengan berkembanganya sistem CSR di indonesia akan membawa dampak positif terhadap lingkungan..
Salah satu yang menonjol dari praktik CSR di indonesia adalah penekanan pada aspek pemberdayaan masyarakat ( comunity deplopment ). Mekipun CSR bukan semata-mata merupakan Comunity Depelopment, namun hal ini angat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat kita, yang masih bergelut dengan kemiskinan di indonesia lebih dari 30% populasi, sedangkan pengangguran sudah mencapai 40 juta orang!!! Belum lagi rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan yang menjadi penyebab utama sulitnya memutus rantai kemiskinan.

Maka CSR sebagai sebuah konsep yang berubah dan tumbuh sesuai dengan perkembangan dunia usaha dan kebutuhan masyarakat bisa menjadi salah satu jawabanya.
Penekanan pada aspek pemberdayaan masyarakat didalam praktik CSR di indonesia merupakan dimensi yang sangat lekat dengan kebutuhan masyarakat indonesia saat ini.

Dalam koridor Tiple Bottom Line yakni sosial, ekonomi dan lingkungan. Meskipun kebanyakan pelaku program CSR merupakan perusahaan besar, tapi sebenarnya CSR bukan hanya memiliki tanggup jawab serupa. Karena yang merusak lingkungan bukan hanya prusahaan besar. Cukup banyak kasus yang melibatkan perusahaan menengah kecil sebagai perusak lingkungan!!.

Setiap perusahaan (Besar atau kecil) seyogyanya beroperasi secara bertanggung jawab. Apabila belum dapat berkontribusi dalam upaya pemberdayaan masyarakat, minimal setiap usaha dapat mengurangi akibat buruk terhadap masyarakat sekitar. Misalnya dengan membuat produk berkualitas dan aman bagi kesehatan, penyaluran limbah dengan baik, Membuat sumur resapan seimbang dengan daerah terbuka. Yang kemudian di tutup karena pembangunan gedung. Gedung atau pabrik, membatasi penggunaan AC dan Listrik serta kenderaan bermotor dan sebagainya.

Dalam rumusan masalah ini saya mencoba membeberkan CSR dalam paraktiknya di indonesia tapi bukan secara ilmiah. Praktik CSR sebagai wujud kepedulian dunia usaha dalam ikut membantu mengatasi masalah sosial di indonesia. Hal ini tentu sangat pantas disimak leh para pembuat kebijakan, agar bersama menyempurnakan aplikasi tersebut untuk pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan ekonomi Nasional.

1.3 Batasan Masalah
Sesuai dengan rumusan yang telah dipaparkan, maka batasan yang diberlakukan dalam tugas akhir ini adalah implementasi teori CSR dalam praktik di indonesia dan perancangan aplikasi CSR diperusahaan-perusahaan yang akan dikerjakan. CSR memungkinkan perusahaan untuk memeriksa kembali kebijakan-kebijakan dan tanggung jawab perusahaan dan lingkungan, sehingga CSR history perusahaan dan melakukan analisis terhadap persahaan sehingga dapat mengambil keputusan berdasarkan analisa yang dibuat.

1.4 Tujuan Penulisan Tugas Akhir
Melakukan analisa terhadap sistem yang sedang berjalan untuk mendapatkan kebutuhan akan informasi CSR pada beberapa bagian perusahaan, dimana memiliki peranan penting dalam memberikan gambaran bagi pihak eksekutif guna pengambilan keputusan strategis

Hasil yang diharapkan adalah melakukan perancangan suatu manajemen rantai pasok yaitu perancangan CSR bagi perusahaan agar memepermudah pihak eksekutif untuk melakukan perencanaan-perencanaan terhadap keberadaan perusahaan dengan lingkungan.

1.5 Metodologi Penulisan Tugas Akhir
Metode yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah :
1. Tinjauan pustaka, mempelajari buku, artikel, dan situs yang terkait dengan data CSR
(COMPANY SOCIAL RESPONSIBILITY ).
2. Wawancara, melakukan studi dengan metode wawancara kepada dosen ataupun praktisi yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam tugas akhir ini.
3. Pengumpulan data, mengumpulkan data-data yang terkait dengan analisis CSR.
4. Implementasi, mengimplementasikan teori CSR dalam analisis dan perancangan aplikasi CSR yang akan dikerjakan.
5. Penulisan tugas akhir, dimulai dari pembuatan proposal sampai dengan pembuatan
kesimpulan dari implementasi COMPANY SOCIAL RESPONSIBILITY

Readmore »»